Rabu, 27 Februari 2013

Refleksi Metodologi Pendidikan

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/metodologi-pendidikan.html

Dari beberapa persoalan yang disajikan dalam artikel yang berjudul “Metodologi Pendidikan” tersebut yang membahas mengenai persoalan-persoalan yang terjadi dalam dunia pendidikan dapat membantu guru khusunya sebagai pendidik untuk mengerti dan memahami berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Sehingga, kedepannya diharapkan para pendidik dapat memberikan inovasi-inovasi baru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan dilakukannya identifikasi persoalan mengenai pendidikan tersebut guru juga dapat mengetahui penyelesaikan dari berbagai persoalan yang muncul. Sehingga akan membantu siswa dalam mengahadapi kesulitan-kesulitan selama proses pembelajaran yang dapat menghambat keberhasilan dalam suatu kegiatan belajar-mengajar. Namun, pada kenyataannya banyak masalah-masalah lain yang muncul terkait dengan pembelajaran matematika. Hal tersebut dapat mengganggu untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. Maka dari itu diperlukan langkah-langkah atau metode-metode yang baik untuk mengurangi dan mencegah timbulnya suatu persoalan dalam mempelajari matematika. Selama ini, guru-guru masih menggunakan metode pembelajaran yang tradisional. Sehingga guru merasa terbebani dalam menerapkan dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan yang sejatinya dalam memperlancar proses pembelajaran (khususnya pelajaran matematika). Seorang guru dituntut untuk dapat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang inovatif dan kreatif.
Kita sebagai seorang calon guru harus memikirkan sejak dini untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran matematika yang kreatif, fleksibel, inovatif, dan menyenangkan. Agar dapat menumbuhkan rasa senang dan nyaman yang akan merujuk siswa untuk berpikir bahwa pembelajaran matematika itu penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.


Selasa, 26 Februari 2013

Refleksi (Problematika Pembelajaran Matematika di SD)

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/problematika-pembelajaran-matematika-di.html


Bismillah,
Dari identikasi mengenai problematika pembelajaran matematika di SD , kita dapat mengetahui bahwa begitu banyaknya permasalahan yang timbul dalam mempelajari matematika. Sebagian besar dari berbagai narasumber yang saya temui, mulai dari siswa SD hingga orang dewasa mengatakan bahwa “Matematika adalah pelajaran yang paling sulit”. Namun, saya kurang setuju dengan pemikiran mereka yang seperti itu. Menurut saya matematika itu bukanlah pelajaran yang sulit. Mereka menganggapnya sulit tergantung bagaimana cara mereka mempelajari matematika. Saat mempelajari matematika diperlukan ketekunan, keterampilan, kesabaran, dan tak lupa membutuhkan kepintaran yang akan dengan sendirinya mengubah kepribadian seseorang. Kepribadian yang bisa dibangun misalnya, siswa menjadi lebih tekun, lebih sabar, lebih terampil dan lebih pintar. Tetapi, kepintaran bukan menjadi faktor utama dalam mempelajari matematika, sebab seseorang yang dikatakan bodoh pun jika mempelajari matematika dengan tekun dan rajin pasti akan dapat menguasai pelajaran matematika. Kunci keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika adalah rasa senang terhadap matematika itu sendiri. Karena pada dasarnya, matematika adalah diri dan kehendak pikiran siswa itu sendiri. Jika dari awal, siswa bisa menanamkan rasa senang terhadap pelajaran matematika, pasti kedepannya siswa dapat dengan mudah menerima dan mempelajari matematika.
Hakekat matematika pada tingkat Sekolah Dasar masih sangat sederhana dan masih dasarnya saja karena pelajaran matematika di SD disesuaikan dengan umur siswa. Guru hanya perlu memberikan gambaran secara garis besar tentang pelajaran matematika tersebut.
Guru matematika juga menjadi salah satu penentu keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika. Jika di dalam proses pembelajaran guru matematika dapat membangun suasana yang kondutif, tentunya akan membuat siswa merasa nyaman berada di dalam kelas tersebut. Mereka akan terus berusaha untuk mengerti apa maksud dari pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Ketika dirumah pun, siswa juga akan terlihat antusias jika disuruh belajar matematika oleh orangtuanya. Guru juga dituntut untuk memberikan pemahaman kepada siswa untuk memahami konsep dasar matematika karena akan memberikan pengalaman langsung yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari beserta pemecahannya.
Namun, banyak juga orangtua yang beranggapan bahwa jika anak mendapatkan nilai matematika yang bagus berarti anak tersebut dapat dikatakan pandai. Padahal, untuk mengukur suatu kepandaian seseorang bukan hanya berdasarkan nilai semata. Kepandaian seseorang dapat dinilai dari seberapa jauh dia dapat memahami dan menggunakan atau mengimplementasikan berbagai pelajaran yang telah dia dapatkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Saya sebagai calon guru merasa mempunyai tanggung jawab yang besar (dalam hal ini saat memberikan pelajaran matematika) untuk dapat mengubah atau memotivasi siswa untuk menghilangkan persepsi mereka mengenai sulitnya belajar matematika. Besar harapan, saat ini guru-guru SD dapat menciptakan suasana belajar yang kreatif, inovatif, dan fleksibel untuk mendorong berkembangkannya potensi yang dimiliki oleh siswa. 
Amin....

Selasa, 19 Februari 2013

Refleksi dari Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika 

Alhamdulillah, setelah membaca dan memahami isi dari artikel yang berjudul “Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika” saya dapat mengambil simpulan bahwa menjadi seorang guru itu bukan hanya sekedar dapat menyampaikan, memberikan, dan mengatur kegiatan belajar mengajar di kelas semata. Seorang guru harus mampu mengembangkan dan mengelola serangkaian kegiatan belajar mengajar dengan kreatif dan inovatif. Untuk mewujudkan hal tersebut, bukan hanya dibutuhkan dengan modal ilmu pengetahuan saja tetapi dibutuhkan suatu keterampilan dan kemampuan untuk bisa memodifikasi suatu bahan ajar agar dapat terwujudnya suatu tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Metode apa saja bisa diterapkan dalam proses pembelajaran matematika. Namun, ada hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran yakni guru harus dapat memahami berbagai karakteristik peserta didiknya. Karena, setiap peserta didik memiliki karakter dan sifatnya masing-masing yang khas, sehingga membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda-beda yang sesuai dengan kekhasannya itu.
Saat ini, guru di Indonesia rata-rata masih terpaku dengan metode ceramah/ ekspositori saja. Guru yang seperti ini adalah guru yang sedang dalam masalah besar, karena pikiran persepsinya masih sangat tradisional atau konvensional. Guru cenderung menyombongkan diri karena selalu menganggap siswa sebagai suatu obyek/ benda semata. Siswa seharusnya dilibatkan pula sebagai subyek dalam kegiatan belajar. Siswa diberikan peran aktif dalam proses belajar-mengajar, agar dapat menggali potensi-potensinya yang belum sepenuhnya dapat direalisasikan. Sebagian besar guru saat ini, masih berambisi untuk menjadikan siswa tertarik dan menumbuhkan kesenangan terhadap pelajaran matematika. Jika metode yang seperti ini masih tetap diberlakukan sampai beberapa waktu kedepan, maka akan mengakibatkan kebosanan yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri.
Padahal metode tersebut sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan metode yang diterapkan oleh beberapa negara yang sudah maju dalam bidang pendidikanya. Metode ceramah/ekspositori hanya cocok diterapkan oleh sebagian kecil kelompok siswa saja. Seiring dengan perkembangan zaman, guru teladan dituntut untuk mengajar dengan sistem atau metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif, karena siswa lebih membutuhkan suatu metode pembelajaran yang dapat melayani kebutuhan siswa dalam belajarnya. Suatu metode yang dapat mengajak siswa untuk berpikir maju ke depan, agar siswa dapat mandiri dan memiliki intelektualitas yang tinggi. Sehingga dalam kehidupannya kelak, jika siswa menjadi seorang guru, dia dapat mengimplementasikan ilmu yang didapatkannya saat di kelas. Peran guru didalam kelas adalah sebagai fasilisator. Misalnya, memfasilitasi siswa dengan menggunakan buku-buku, bahan ajar, modul atau handout yang kreatif sehingga dengan sendirinya dapat menumbuhkan kesenangan dalam diri siswa itu sendiri. Melalui bahan ajar tersebut, pikiran dan persepsi siswa akan dibuka seluas-luasnya sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing.
Bukan perkara mudah untuk dapat mengubah sistem pendidikan di Indonesia, karena mereka sudah mempunyai kebudayaan dan kebiasaan yang sudah dibawa sejak lahir. Diperlukan perubahan mendasar yang dapat dimulai dari dalam diri kita sendiri, dengan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman yang dilandasi oleh niat dan doa untuk maju serta dengan memiliki attitude (bergaul dengan teman yang sama ). Sehingga dapat menghasilkan siswa yang memiliki knowledge (pengetahuan) dan skill yang mumpuni yang dapat dijadikan sebagai modal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai saat ini cara tepat yang digunakan untuk perubahan dari konvensional menjadi inovatif masih menjadi pertanyaan besar. Besar harapan, dalam waktu yang akan datang tidak akan ada lagi istilah bahwa guru memaksakan kehendaknya kepada siswa. Karena pada dasarnya, matematika itu adalah diri dan kehendak pikiran siswa itu sendiri.