Refleksi dari Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika
Alhamdulillah, setelah membaca dan memahami isi dari artikel yang
berjudul “Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika” saya
dapat mengambil simpulan bahwa menjadi seorang guru itu bukan hanya
sekedar dapat menyampaikan, memberikan, dan mengatur kegiatan belajar
mengajar di kelas semata. Seorang guru harus mampu mengembangkan dan
mengelola serangkaian kegiatan belajar mengajar dengan kreatif dan
inovatif. Untuk mewujudkan hal tersebut, bukan hanya dibutuhkan dengan
modal ilmu pengetahuan saja tetapi dibutuhkan suatu keterampilan dan
kemampuan untuk bisa memodifikasi suatu bahan ajar agar dapat
terwujudnya suatu tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Metode apa
saja bisa diterapkan dalam proses pembelajaran matematika. Namun, ada
hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran yakni guru
harus dapat memahami berbagai karakteristik peserta didiknya. Karena,
setiap peserta didik memiliki karakter dan sifatnya masing-masing yang
khas, sehingga membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda-beda yang
sesuai dengan kekhasannya itu.
Saat ini, guru di Indonesia rata-rata
masih terpaku dengan metode ceramah/ ekspositori saja. Guru yang
seperti ini adalah guru yang sedang dalam masalah besar, karena pikiran
persepsinya masih sangat tradisional atau konvensional. Guru cenderung
menyombongkan diri karena selalu menganggap siswa sebagai suatu obyek/
benda semata. Siswa seharusnya dilibatkan pula sebagai subyek dalam
kegiatan belajar. Siswa diberikan peran aktif dalam proses
belajar-mengajar, agar dapat menggali potensi-potensinya yang belum
sepenuhnya dapat direalisasikan. Sebagian besar guru saat ini, masih
berambisi untuk menjadikan siswa tertarik dan menumbuhkan kesenangan
terhadap pelajaran matematika. Jika metode yang seperti ini masih tetap
diberlakukan sampai beberapa waktu kedepan, maka akan mengakibatkan
kebosanan yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri.
Padahal
metode tersebut sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan metode
yang diterapkan oleh beberapa negara yang sudah maju dalam bidang
pendidikanya. Metode ceramah/ekspositori hanya cocok diterapkan oleh
sebagian kecil kelompok siswa saja. Seiring dengan perkembangan zaman,
guru teladan dituntut untuk mengajar dengan sistem atau metode
pembelajaran yang inovatif dan kreatif, karena siswa lebih membutuhkan
suatu metode pembelajaran yang dapat melayani kebutuhan siswa dalam
belajarnya. Suatu metode yang dapat mengajak siswa untuk berpikir maju
ke depan, agar siswa dapat mandiri dan memiliki intelektualitas yang
tinggi. Sehingga dalam kehidupannya kelak, jika siswa menjadi seorang
guru, dia dapat mengimplementasikan ilmu yang didapatkannya saat di
kelas. Peran guru didalam kelas adalah sebagai fasilisator. Misalnya,
memfasilitasi siswa dengan menggunakan buku-buku, bahan ajar, modul atau
handout yang kreatif sehingga dengan sendirinya dapat menumbuhkan
kesenangan dalam diri siswa itu sendiri. Melalui bahan ajar tersebut,
pikiran dan persepsi siswa akan dibuka seluas-luasnya sesuai dengan
jenjang pendidikannya masing-masing.
Bukan perkara mudah untuk dapat
mengubah sistem pendidikan di Indonesia, karena mereka sudah mempunyai
kebudayaan dan kebiasaan yang sudah dibawa sejak lahir. Diperlukan
perubahan mendasar yang dapat dimulai dari dalam diri kita sendiri,
dengan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman yang dilandasi oleh niat
dan doa untuk maju serta dengan memiliki attitude (bergaul dengan teman
yang sama ). Sehingga dapat menghasilkan siswa yang memiliki knowledge
(pengetahuan) dan skill yang mumpuni yang dapat dijadikan sebagai modal
dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai saat ini cara tepat yang
digunakan untuk perubahan dari konvensional menjadi inovatif masih
menjadi pertanyaan besar. Besar harapan, dalam waktu yang akan datang
tidak akan ada lagi istilah bahwa guru memaksakan kehendaknya kepada
siswa. Karena pada dasarnya, matematika itu adalah diri dan kehendak
pikiran siswa itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar