Rabu, 12 Juni 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 40




Sesungguhnya ibadah solat merupakan sebaik-baiknya amal, ia mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Ibadah inilah yang membedakan antara orang mukmin dan orang kafir. Ketika kita sudah mengetahui betapa pentingnya shalat dan begitu mulianya kedudukannya di sisi Allah, maka tentu sebagai muslim kita harus melaksanakannya sesuai dengan ketetuan-ketentuan yang telah digariskan oleh aturan syariat kita, yaitu Islam. Shalat khusyu’ merupakan dambaan setiap orang, bahkan berbagai macam cara yang dilakukan seseorang untuk menggapai shalat khusyu’. Setiap muslim selalu berkeinginan agar solatnya bisa khusyu’ dalam keadaan apapun.  Namun, dalam mewujudkan hal tersebut tentu ada banyak sekali faktor yang menghambat. Agar dapat melaksanakan shalat dengan khusyu’, maka “hendaklah engkau memperbanyak Zikir. Sebab, dengan berzikir kepada Allah, setiaphati akan tenang” (Q.S. Al-Ra’du:28). Dari dalil tersebut, sudah jelas bahwa apabila kita menginginkan shalat yang khusyu’ maka kita harus memperbanyak berdzikir. Karena pada dasarnya, dzikir adalah salah satu cara yang dapat mengusir syaitan. Namun, ternyata dzikir saja tidak cukup untuk mengusir syaitan. Dzikir baru akan efektif kalau hati kita bersih dari makanan syaitan. Jika hati kita sudah bersih, barulah kita mampu menghardik syaitan. Sesungguhnya khusyu’ letaknya adalah di hati. Hati seseorang mempunyai dua jenis pintu. Pertama, pintu bagi cahaya Tuhan; kedua, pintu bagai unsur syaitan. Pintu bagi cahaya tuhan hanya satu, dan pintu bagi unsur syaitan ada banyak sekali. Oleh karena itu Al-Qur’an menyebut jalan Tuhan sebagai Shirath. Syaitan hanya bisa masuk ke dalam hati melalui pintu-pintunya (madkhal). Melalui pintu-pintu tersebut, syaitan akan masuk ke dalam hati dengan membawa penyakit-penyakit hati. Sebenarny terdapat beberapa penyakit hati, diantaranya yaitu ambisi atau keinginan yang sangat rakus dan hasad yaitu kedengkian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar