Minggu, 05 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 30: Tasyakuran Ketiga (Proyek Syurga)


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-tasyakuran-spiritual-ketiga.html
Berdasar elegi yang berjudul “Elegi Ritual Ikhlas 30: Tasyakuran Ketiga (Proyek Syurga)” tersebut kita dapat mengetahui beberapa cara yang dapat membantu kita menuju surga jika kita rajin melakukannya, diantara sebagai berikut:
Duapuluhtiga: memperbanyak membaca al-qur’an
Duapuluhempat: terus-menerus berdoa
Duapuluhlima: berpartisipasi dalam melakukan kebaikan (memberikan bantuan)
Duapuluhenam: berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan
Duapuluhtujuh: menghidupkan malam-malam yang penting
Duapuluhdelapan: membayar khumus yang diwajibkan kepadanya sehingga mensucikan hartanya
Duapuluhsembilan: menjalankan semua kewajiban dengan penuh perhatian, kerajinan, dan kecermatan
Tigapuluh: tidak boleh bergunjing.
Salah satu proyek membangun surga pada elegi tersebut adalah tidak boleh bergunjing. Sesama muslim adalah saudara. Karena itu menyakiti, menggunjing dan mencaci maki orang muslim adalah dosa besar. Sifat tercela ini merupakan ciri-ciri orang munafik. Kecenderungan orang munafik ialah diam-diam membenci orang muslim, terutama muslim yang taat. Di belakang, dia akan mencaci dan menggunjingnya. Orang munafik tidak pernah menghiraukan bahwa sesama muslim tidak boleh menyakiti, baik melalui cacian, tindakan, menyebar isu bohong dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda, “Mencaci maki orang Islam itu adalah fasik, yang membunuhnya adalah kufur”. Fasik adalah perilaku yang bertolak belakang antara lahiriah dan hatinya. Inilah orang munafik, sebab yang tampaknya terasa indah, yang disimpan dalam hati terasa busuk. Ia sering menjelek-jelekkan, menyebar fitnah dan membuka keburukan. Ia suka mengoreksi orang lain, sedikit saja keburukan maka akan menjadi besar.
Kepribadian muslim sejati yang beriman adalah merasa bahwa sesama muslim itu adalah saudara. Dengan begitu akan terjalinlah hidup bekerja sama yang baik, saling tolong menolong, saling membantu maka akan menciptakan kehidupan yang tenteram, damai dan harmonis. Seseorang akan senantiasa menghindari caci maki dan menjelek-jelekkan sesama muslim. Oleh sebab itu, jika ada seseorang mengaku muslim tetapi masih suka menggunjing, maka ia bukanlah muslim sejati.

Rabu, 01 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 29: Tasyakuran Ke Dua (Proyek Syurga)


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-tasyakuran-spiritual-ke-dua.html
Setelah membaca Elegi Ritual Ikhlas 28: Tasyakuran Ke Satu (Proyek Syurga) yang lalu saya masih ragu apakah dapat meniru dan menjalankan amalan-amalan yang disebutkan untuk meraih surga. Pada elegi ini, disebutkan pula lanjutan dari cara mengembangkan proyek menghuni syurga, diantaranya:
Sebelas: Tidak membongkar aib orang beriman
Duabelas: Selalu mulai dengan salam
Tigabelas: Selalu belajar dan bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui
Empatbelas: Melakukan amar makruf nahi munkar
Limabelas: Tidak marah kecuali karena allah
Enambelas: Tidak menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat
Tujuhbelas: Melakukan salat malam
Sembilanbelas: Menghadiri majelis zikir dan majelis husainiayah
Delapanbelas: Menjadi teladan dalam akhlak yang terpuji di rumah, di jalan, dan di pekerjaan
Duapuluh: Memelihara pandangan dari apa yang diharamkan allah
Duapuluhsatu: Memiliki kecemburuan pada agamanya dan isterinya
Duapuluhdua: Bagi perempuan, memakai hijab secara sempurna, tidak menampakkan selembar rambut pun dengan sengaja dan tidak berhias untuk orang lain selain suaminya.
Dari beberapa point diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada di dunia yang sempurna. Sempurna itu relatif tergantung dari sisi apa kita melihatnya. Namun dalam hal ini tetap Allah lah yang paling sempurna. Tidak ada satupun makhlukNya yang mampu menandingi. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
Didalam kehidupannya, manusia dituntut untuk selalu menuntut ilmu. Namun, mereka seringkali menyia-nyiakan waktunya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, padahal tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.




Selasa, 30 April 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 28: Tasyakuran Ke Satu (Proyek Syurga)

Bagaimana cara mengembangkan proyek menghuni syurga, berikut ini adalah beberapa cara diantaranya:
-Memelihara waktu shalat
-Menghadiri salat berjamaah
-Bertasbih dengan tasbih azzahra, terutama setelah salat
-Selalu membaca shalawat kepada muhammad dan keluarganya
-Selalu beristighfar dan memohonkan ampunan
-Selalu berzikir kepada allah
-Salat-salat sunat harian
-Menyambungkan silaturahmi terutama dengan orang tua
-Menyesali dosa
-Bergaul baik antara suami isteri
Dari sepuluh proyek menghuni surga tersebut, saya tertarik dengan “menghadiri salat berjamaah”. Sebagian dari muslim yang memiliki rutinitas yang padat, kebanyakan lebih memilih untuk solat munfarid dan seringkali melupakan untuk solat berjamaah. Padahal solat berjamaah memiliki beberapa keutamaan yang tidak diragukan lagi.
Solat berjamaah dianggap urgen bagi kaum muslimin dan bagi setiap individu yang ada di dalamnya. Allah ta’ala telah menjanjikan untuknya pahala yang besar dan Rosulullah senantiasa memotivasi untuk mengerjakannya. Dan beliau telah memberitahu bahwa seseorang yang melakukan solatnya secara berjamaah jauh lebih utama daripada solat sendirian dan bahwa solat berjamaah merupakan sebab terjaganya kaum muslimin dari syaitan.


REFLEKSI Elegi Ritual ikhlas 27: Silaturakhim Para Ikhlas


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-silaturakhim-para-ikhlas.html
Islam adalah agama yang indah karena di dalamnya mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan. Islam sangat menganjurkan seorang muslim untuk saling bersilaturahmi. Silaturahmi maknanya yakni sebagai penyambung tali persaudaraan kepada kerabat. Silaturahmi merupakan ibadah yang agung, mudah dan membawa berkah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan silaturahmi, diantaranya dengan berziarah, memberi hadiah, memberi nafkah, berlaku lemah lembut, bermuka manis (senyum), memuliakannya dan semua yang manusia itu menganggapnya silaturahmi. Allah SWT telah menganjurkan hambaNya untuk saling menyambung silaturahmi dalam beanyak hadist, diantaranya ialah firma Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi” (QS. An-nisa’: 1).
Tidaklah Islam memerintahkan sesuatu, kecuali pasti ada kebaikan dan keutamaan yang akan didapatkan pelakunya. Silaturahmi juga mempunyai keutamaannya, diantaranya yakni:
a.       Merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya
b.      Saling bersilaturahmi akan menambah berkah umur dan rizki
c.       Seseorang yang saling bersilaturahmi insyaallah akan masuk ke surga dan jauh dari neraka
d.      Silaturahmi merupakan amalan yang paling dicintai Allah dan paling utama.
Kemudian seorang muslim yang menjauhi dan tidak melakukan silaturahmi maka dia tidaka akan masuk surga. Kehidupannya didunia akan diliputi dengan siksa dan kelak di akhirat juga akan mendapatkan siksa  yang lebih dari kehidupan dunia. Semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang menjauhi dan memutus silaturahmi.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-perlombaan-menjunjung-langit.html
Sesungguhnya seorang muslim adalah seorang pemenang, karena seorang muslim adalah yang terbaik diantara manusia. Jika pun ras manusia dilahirkan bukan di bumi maka dimanapun ras manusia berada, seorang muslim lah yang menjadi terbaik. Seorang pemenang haruslah memiliki ilmu dunia dan ilmu akhirat, keihlasan, kejujuran, niat yang tulus dan baik, serta didasari oleh perilaku yang terpuji.
Dalam elegi diatas diceritakan mengenai perlombaan menjunjung langit. Digambarkan bahwa orang yang memiliki kesombongan tidak akan menjadi seorang pemenang atau bahkan akan mati. Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong maka dia tidak akan menjadi seorang pemenang, karena ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka seseorang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Dalam surah (Al-Isra' 17:37) ALLAH SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Akibat buruk dari sikap sombong kepada Allah akan menyebabkan kehinaan dan kesengsaraan. Dan tidak mungkin seseorang yang sombong akan memiliki kesuksesan. Kalaupun sukses pasti hanya sementara saja. Karena, sifat sombong ini akan menutup rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Sifat sombong juga akan mengundang azab dan siksa dari Allah SWT. Selain itu juga akan menjauhkan manusia dengan menusia lain. Karena tidak ada satupun manusia yang suka dengan sombong. Maka dari itu marilah kita menghindari sifat sombong dan bersama-sama bersyukur kepada allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Al-qur’an surah Lugman: 12 yang artinya, “Dan barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”.