Minggu, 19 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas



Ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dari Nya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Niat yang ikhlas kerana Allah Ta’ala sebagaimana firmannya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (Al-Bayyinah: 5). Apabila ilmu tidak didasari dengan keikhlasan niat, ia berubah daripada ibadah yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina. Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa cara,  yang pertama yakni berniat bahwa menuntut ilmu itu untuk menjalankan perintah Allah. Karena, memang Allah yang memerintahkanNya. Kedua, kita harus berniat untuk menjaga syariat Allah, kerana menjaga syariat Allah itu bisa dilakukan dengan belajar baik dengan cara menghafal, menulis, maupun mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kita harus berniat untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Kerana kita tidak  mungkin bisa mengikuti ajaran beliau kecuali jika engkau mengetahuinya terlebih dahulu. Dan masih banyak cara-cara yang lain untuk menggapai ikhlas dalam menuntut ilmu. Semoga kita semua dapat selalu ikhlas dalam menjalankan segala sesuatu terkait dengan kebutuhan kita dan orang lain.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau



Semua manusia di dalam menjalani kehidupan di dunia ini pasti memiliki perasaan risau. Risau seakan tidak dapat dipisahkan dalam diri seseorang. Perasaan ini selalu datang ketika seseorang mengalami keraguan dan kekhawatiran dalam melakukan sesuatu. Risau akan selalu mengganggu hati manusia di dalam melakukan segala hal. Sesungguhnya, risau itu datang membelenggu hati, pikiran dan perilaku kita. Semuanya tergantung dari perilaku seseorang yang harus didasari dengan hati yang mantap dan dengan niat ikhlas yang tulus. Maka, senantiasa perasaan risau itu akan perlahan menghilang oleh kemantapan dan ketulusan hati kita. Namun, di dalam elegi ini, solusi yang paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amin..

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-menggapai-cemani.html
Setiap makhluk hidup diciptakan oleh allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan kelebihan yang dimilikinya, seseorang dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja dalam kebajikan serta semata-mata untuk mendapatkan ridho dari allah swt. Kemudian dengan kekurangannya, manusia dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja keras untuk memperbaiki atau mengurangi kekurangan yang dia miliki. Pada hakikatnya, manusia hidup di dunia adalah untuk mencari ilmu, meliputi ilmu agama, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Dalam usaha untuk memperoleh ilmu tersebut, allah telah memfasilitasi manusia dengan berbagai macam potensi yang ada. Dalam elegi diatas, kita dapat mengetahui bahwa syarat seorang pemenang adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.
Berpikir kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir bagaimana menjadikannya hidupnya lebih baik, dan mampu menjalani suatu masalah sepelik apapun yang diberikan kepadanya.
Berhati ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah SWT saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutuka dengan yang lain, tidak riya dalam beramal, dan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pemenang harus berpikir kritis dan berhati ikhlas. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna.


REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 33: Doakulah yang tersisa


http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-menggapai-hati.html
Selain pikiran, manusia juga dikaruniai hati. Hati adalah tempat munculnya kehendak, kemauan dan perasaan. Pikiran kita mengarahkan kemauan dengan menggunakan daya cipta kita, sedangkan dengan hati kita memantapkan kemauan dan merasakannya dengan perasaan kita. Bila hati kita memiliki kemauan yang kuat dan ditambah dengan keyakinan yang kuat, maka seseorang akan memiliki kekuatan yang besar.
Untuk mengahadapi hal-hal yang besar, kadangkala kita merasa ragu dengan keputusan yang akan diambil. Pada saat itulah seringkali kita tidak lagi menggunakan pikiran dengan analisisnya, tetapi bertanyalah pada hati kita yang sering disebut dengan hati nurani. Ketika seseorang merasa ragu akan suatu hal, maka tentu saja dirinya telah diliputi oleh rasa khawatir. Semua manusia pasti memiliki rasa khawatir. Khawatir itu berada diantara batas pikiran dan hati seseorang. Rasa khawatir akan muncul ketika seseorang tidak dapat menggunakan pikirannya dengan baik dan ketika seseorang tidak membersihkan hatinya dari segala penyakit hati yang sekiranya mengganggu.
Sesungguhnya semua orang telah diberikan anugerah yang besar dari Allah yaitu pikiran dan hati. Bila kita memanfaatkannya dengan baik maka akan menjadi kekuatan dahsyat yang akan menjadikan hidup kita menjadi sukses, bahagia dan bermakna.
Dengan bermodalkan pikiran dan hati, setiap manusia diharuskan untuk selalu berusaha (berikhtiar) dan berdoa (bertawakal) untuk mendapatkan segala hal yang diinginkan. Kedua hal tersebut adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, seseorang dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja semaksimal mungkin yang tentunya harus diiringi oleh doa (tawakal).

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah

Asmaul Husna digolongkan ke dalam dua bagian besar, yakni jalaliyyah dan jamaliyyah. Jalaliyyah adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah SWT, seperti Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuat, dan Maha Kuasa. Jalaliyyah adalah sesuatu yang bernilai luar biasa, sangat tinggi, dan tan ada bandingannya. Dari sisi jalaliyyah-Nya, Allah itu bersifat transenden, artinya Dia itu berada diluar bayangan-bayangan kita. Karena pada kenyataannya semua makhluk hidup tidak bisa melihat wujud Allah yang sesungguhnya. Kita sebagai manusia hanya bisa membayangkanNya dalam hati dan pikiran saja.
Sedangkan jamaliyyah adalah sifat-sifat Allah yang berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan Allah, seperti Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Lembut dan Maha Penyayang. Dari sisi jamaliyyah-Nya kita harus melakukan tasybih, yaitu kita harus meniru Allah dan menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya yang indah, berakhlak dengan akhlak Allah, dan mencoba menyerap sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Allah itu Maha Penyayang, maka sudah sepantasnya kita harus saling menyayangi antara sesama muslim. Semakin kita meniru sifat kelembutan Allah maka semakin halus budi pekerti ini.