Ikhlas
adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap
pahala dari Nya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari
Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Niat yang ikhlas
kerana Allah Ta’ala sebagaimana firmannya: “Padahal mereka tidak
disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan
kepadaNya, dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (Al-Bayyinah: 5).
Apabila ilmu tidak didasari dengan keikhlasan niat, ia berubah daripada ibadah
yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina. Ikhlas dalam menuntut
ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa cara,
yang pertama yakni berniat bahwa menuntut ilmu itu untuk menjalankan
perintah Allah. Karena, memang Allah yang memerintahkanNya. Kedua, kita harus
berniat untuk menjaga syariat Allah, kerana menjaga syariat Allah itu bisa
dilakukan dengan belajar baik dengan cara menghafal, menulis, maupun
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kita harus berniat
untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Kerana kita tidak mungkin bisa mengikuti ajaran beliau kecuali
jika engkau mengetahuinya terlebih dahulu. Dan masih banyak cara-cara yang lain
untuk menggapai ikhlas dalam menuntut ilmu. Semoga kita semua dapat selalu
ikhlas dalam menjalankan segala sesuatu terkait dengan kebutuhan kita dan orang
lain.
Minggu, 19 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau
Semua manusia di dalam menjalani
kehidupan di dunia ini pasti memiliki perasaan risau. Risau seakan tidak dapat
dipisahkan dalam diri seseorang. Perasaan ini selalu datang ketika seseorang
mengalami keraguan dan kekhawatiran dalam melakukan sesuatu. Risau akan selalu
mengganggu hati manusia di dalam melakukan segala hal. Sesungguhnya, risau itu
datang membelenggu hati, pikiran dan perilaku kita. Semuanya tergantung dari
perilaku seseorang yang harus didasari dengan hati yang mantap dan dengan niat
ikhlas yang tulus. Maka, senantiasa perasaan risau itu akan perlahan menghilang
oleh kemantapan dan ketulusan hati kita. Namun, di dalam elegi ini, solusi yang
paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau
berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus
pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh
Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu
sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas
pertolongan Nya. Amin..
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani
http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-menggapai-cemani.html
Setiap makhluk hidup diciptakan oleh allah dengan
segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan kelebihan yang
dimilikinya, seseorang dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja dalam
kebajikan serta semata-mata untuk mendapatkan ridho dari allah swt. Kemudian dengan
kekurangannya, manusia dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja keras untuk
memperbaiki atau mengurangi kekurangan yang dia miliki. Pada hakikatnya,
manusia hidup di dunia adalah untuk mencari ilmu, meliputi ilmu agama, ilmu
pengetahuan dan lain-lain. Dalam usaha untuk memperoleh ilmu tersebut, allah
telah memfasilitasi manusia dengan berbagai macam potensi yang ada. Dalam elegi
diatas, kita dapat mengetahui bahwa syarat seorang pemenang adalah siapa saja
yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Berhati ikhlas dan berpikir
kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau
simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi
dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.
Berpikir kritis merupakan upaya
pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang
sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan
yang dapat memecahkan masalah tersebut. Setiap orang memiliki pola pikir yang
berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara kritis,
masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari
solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa
berpikir bagaimana menjadikannya hidupnya lebih baik, dan mampu menjalani suatu
masalah sepelik apapun yang diberikan kepadanya.
Berhati ikhlas adalah orang yang
menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah SWT saja dengan menyembah-Nya dan
tidak menyekutuka dengan yang lain, tidak riya dalam beramal, dan semata-mata
untuk mendapatkan ridho Allah.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa
menjadi seorang pemenang harus berpikir kritis dan berhati ikhlas. Keduanya
memiliki hubungan yang sangat erat untuk menjadikan manusia sebagai makhluk
yang paling sempurna.
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 33: Doakulah yang tersisa
http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-menggapai-hati.html
Selain pikiran, manusia juga dikaruniai hati. Hati
adalah tempat munculnya kehendak, kemauan dan perasaan. Pikiran kita
mengarahkan kemauan dengan menggunakan daya cipta kita, sedangkan dengan hati
kita memantapkan kemauan dan merasakannya dengan perasaan kita. Bila hati kita
memiliki kemauan yang kuat dan ditambah dengan keyakinan yang kuat, maka
seseorang akan memiliki kekuatan yang besar.
Untuk mengahadapi hal-hal yang besar, kadangkala kita
merasa ragu dengan keputusan yang akan diambil. Pada saat itulah seringkali
kita tidak lagi menggunakan pikiran dengan analisisnya, tetapi bertanyalah pada
hati kita yang sering disebut dengan hati nurani. Ketika seseorang merasa ragu
akan suatu hal, maka tentu saja dirinya telah diliputi oleh rasa khawatir.
Semua manusia pasti memiliki rasa khawatir. Khawatir itu berada diantara batas
pikiran dan hati seseorang. Rasa khawatir akan muncul ketika seseorang tidak
dapat menggunakan pikirannya dengan baik dan ketika seseorang tidak
membersihkan hatinya dari segala penyakit hati yang sekiranya mengganggu.
Sesungguhnya semua orang telah diberikan anugerah yang
besar dari Allah yaitu pikiran dan hati. Bila kita memanfaatkannya dengan baik
maka akan menjadi kekuatan dahsyat yang akan menjadikan hidup kita menjadi
sukses, bahagia dan bermakna.
Dengan bermodalkan pikiran dan hati, setiap manusia
diharuskan untuk selalu berusaha (berikhtiar) dan berdoa (bertawakal) untuk
mendapatkan segala hal yang diinginkan. Kedua hal tersebut adalah suatu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, seseorang dituntut untuk selalu
berusaha dan bekerja semaksimal mungkin yang tentunya harus diiringi oleh doa
(tawakal).
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah
Asmaul Husna digolongkan ke dalam dua bagian besar,
yakni jalaliyyah dan jamaliyyah. Jalaliyyah adalah sifat-sifat yang berisi
aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah SWT, seperti Maha Besar, Maha Agung, Maha
Kuat, dan Maha Kuasa. Jalaliyyah adalah sesuatu yang bernilai luar biasa,
sangat tinggi, dan tan ada bandingannya. Dari sisi jalaliyyah-Nya, Allah itu
bersifat transenden, artinya Dia itu berada diluar bayangan-bayangan kita.
Karena pada kenyataannya semua makhluk hidup tidak bisa melihat wujud Allah
yang sesungguhnya. Kita sebagai manusia hanya bisa membayangkanNya dalam hati
dan pikiran saja.
Sedangkan jamaliyyah adalah sifat-sifat Allah yang
berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan Allah, seperti Maha Penyayang, Maha
Pengampun, Maha Lembut dan Maha Penyayang. Dari sisi jamaliyyah-Nya kita harus
melakukan tasybih, yaitu kita harus meniru Allah dan menyerupai-Nya dalam
sifat-sifat-Nya yang indah, berakhlak dengan akhlak Allah, dan mencoba menyerap
sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Allah itu Maha Penyayang, maka sudah
sepantasnya kita harus saling menyayangi antara sesama muslim. Semakin kita
meniru sifat kelembutan Allah maka semakin halus budi pekerti ini.
Langganan:
Komentar (Atom)