Rabu, 20 Maret 2013

REFLEKSI News Update: Koalisi Pendidikan Menolak Kurikulum 2013 Tolak Perubahan Kurikulum Pendidikan



Perubahan kurikulum pendidikan KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013 bukan lagi menjadi wacana. Dari berbagai berita yang saya dengar, kurikulum 2013 sudah diberlakukan mulai bulan Maret ini. Namun, baru diberlakukan sebesar 30% pada sekolah-sekolah yang terakreditasi A dan B. Tentu saja berita tersebut sangat mengejutkan masyarakat Indonesia karena  adanya proyek perombakan kurikulum tersebut terkesan sangat dipaksakan. Sebab, kurikulum baru yang disebut dengan “Kurikulum 2013” tersebut harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum sepenuhnya mengerti dan melihat hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena adanya kesalahan kurikulum. Padahal, jika dicermati penyebab merosotnya mutu pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh adanya Ujian Nasional (UN) yang seakan-akan menjadi momok tersendiri bagi guru dan siswa. Dengan adanya UN tersebut mengakibatkan siswa dan guru seringkali menggunakan cara-cara yang instan untuk mencapai hasil akhir yang maksimal. Tidak peduli apakah cara tersebut benar menurut hukum dan agama ataupun tidak. Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut, tentunya akan menimbulkan berbagai pro dan kontra yang berkembang dikalangan masyarakat. Mereka yang mendukung maupun yang menolak tentunya memiki alasan masing-masing yang mendasari pemikiran mereka. Kurikulum 2013 bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan karakter siswa. Namun, ada beberapa mata pelajaran yang dihilangkan. Seharusnya untuk perubahan kurikulum yang lebih baik, jangan ada aspek yang dihilangkan ataupun diganti. Pendidikan yang tidak berbasis pada akhlak dan budi pekerti, hanya membentuk manusia pintar tapi kurang moral.
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/news-update-koalisi-pendidikan-menolak.html

REFLEKSI Mathematics and Language 10

http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/mathematics-and-language-10.html



Saya setuju dengan pernyataan diatas bahwa TI adalah salah satu media yang dapat membantu dan mendukung kelancaran siswa dalam belajar. Kehadiran Teknologi Informasi (TI), terutama komputer dan internet sudah lama dimanfaatkan oleh negara-negara maju. Dengan adanya media tersebut siswa dapat secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya. Sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya. Siswa dapat menggunakan perangkat TI untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis, dan saling tukar informasi secara efisien dan efektif. Sehingga, dengan sendirinya siswa akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan penting yang tidak dia dapatkan sewaktu kegiatan belajar mengajar dikelas. Karena pada dasarnya, orang itu dapat berkembang dengan kesadaran sendiri. Namun, juga harus didukung dengan adanya dorongan dan motivasi dari pihak lain. TI juga bermanfaat untuk memfasilitasi terjadinya interaksi antara guru dalam pembelajaran. Sebagai contoh, apabila seorang guru tidak hadir kedalam kelas, maka guru tersebut dapat memanfaatkan adanya media internet. Guru dan siswa dapat berkomunikasi dan saling bertukar informasi yang relatif cepat. Sehingga tidak akan menghambat kelancaran kegiatan pembelajaran. Intinya dengan memanfaatkan media internet para siswa tidak semata-mata hanya dapat belajar di dalam kelas saja. Namun, ada baiknya dalam menggunakan, memanfaatkan dan mengelola media internet tersebut harus didasari adanya sikap dan mental positif. Agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan berbagai pihak.


Minggu, 03 Maret 2013

Refleksi IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Setelah membaca beberapa pertanyaan dari artikel yang terkait dengan masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika terlihat jelas bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikis dan psikologis siswa. Banyak dari mereka (siswa) merasa terbebani dengan adanya tugas-tugas yang diberikan oleh guru di dalam kelas. Porsi tugas yang terlalu banyak seringkali membuat siswa merasa down dan kadang bisa menjadikan siswa stress. Sebagai seorang guru yang baik, harus dapat menumbuhkan mental dan memberikan motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika. Agar siswanya dapat memiliki mental yang kuat. Apalagi jika sebagai seorang guru muda, mereka harus bisa mengolah dan mengembangkan sistem pembelajaran agar dapat menumbuhkan suasana yang lebih kreatif, kondusif, dan fleksibel. Guru juga harus dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proes pembelajaran. Namun tidak cukup itu saja, seorang guru juga harus mampu mengembangkan bahan ajar dan menggabungkan beberapa metode dalam pembelajaran. Karena, setiap peserta didik memiliki karakter dan sifatnya masing-masing yang khas, sehingga membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda-beda yang sesuai dengan kekhasannya itu. Selain itu juga karena seorang guru mempunyai tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, melatih dan menilai siswa secara adil, seperti slogan “Education for All”. Sehingga, tidak ada kasus lagi mengenai kesenjangan antara siswa berprestasi tinggi dengan yang biasa-biasa saja.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam pembelajaran matematika yakni jika telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui hasil(berupa nilai) saat selesai tes, dan melalui sikap serta tindakan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran matematika itu sendiri adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari pengetahuan lain. Untuk mencapai tujuan tersebut sangat dipengaruhi pada beberapa komponen, seperti guru yang berperan sebagai pendidik. Seorang pendidik harus mampu memfasilitasi proses pembelajaran matematika dengan memanfaatkan sarana dan prasarana, bahan ajar, dan metode-metode pembelajaran yang bervariasi. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika, dapat menggunakan pembelajaran matematika secara kontekstual yang sudah diterapkan oleh beberapa negara. Melalui pendekatan ini dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam menyelesaikan tugas matematika yang bisa dimulai dengan memberikan masalah-masalah kontekstual. Pada intinya, pendekatan secara kontekstual dapat menjadikan siswa lebih aktif, kritis, dan kreatif.

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/identifikasi-masalah-psikologi-mengajar.html

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)


http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_29.html

Dewasa ini, matematika dianggap sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan yang lain. Dapat dikatakan seperti tersebut karena ilmu matematika dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan sehari-hari, misalnya dalam kegiatan perdagangan, teknologi dan lain sebagainya. Banyak ilmu-ilmu yang ditemukan dan dikembangkan melalui ilmu matematika. Ilmu matematika dipelajari mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap matematika sebagai momok tersendiri. Hal tersebut dapat terjadi salah satunya karena kurangnya intuisi yang dimiliki siswa terhadap ilmu matematika . Karena pada kenyataannya sistem pembelajaran yang dianut oleh sekolah sekolah di Indonesia lebih menekankan aspek kognitif saja. Para guru dan pihak sekolah seakan melupakan aspek afektif dan psikomotorik yang seharusnya juga dimiliki oleh siswa. Sebagian besar dari guru menginginkan hasil Ujian Nasional yang memuaskan. Padahal, dengan adanya statement tersebut siswa malah merasa tertekan dan terbebani. Bukannya siap, siswa malah menjadi gugup dan menjadi konsentrasi dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Pihak sekolah seakan lebih berorientasi pada nilai akhir saja tanpa memperhatikan prosesnya. Misalnya, saat menjelang Ujian Nasional guru-guru memberikan rumus-rumus praktis untuk mengerjakan soal-soal tertentu. Padahal yang seharusnya dilakukan guru untuk membantu siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam matematika adalah dengan memberitahukan seluk beluk/ proses dari permasalahan tersebut. Sehingga, siswa tahu proses untuk menemukan pemecahan dari suatu masalah tersebut. Yang nantinya, jika siswa sudah tahu proses panjangnya maka akan membuat siswa menjadi lebih kreatif untuk menemukan sendiri rumus-rumus praktis tanpa batas.
Oleh karena itu, guru seharusnya memberikan pembelajaran matematika melalui prosedur yang sistematis. Sehingga akan diperoleh suatu hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan oleh kedua pihak (pihak sekolah dan siswa) yang dapat berupa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan tertentu yang dapat digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi pertemuan ke-3 Mata Kuliah Konsep Dasar Matematika SD 2

Hari ketiga pertemuan mata kuliah Konsep Dasar Matematika SD 2 membicarakan mengenai beberapa pertanyaan atau persoalan yang sudah diajukan mahasiswa diawal pertemuan. Meliputi persoalan-persoalan yang mungkin akan dialami oleh mahasiswa kelak ketika menjadi seorang guru. Beberapa persoalan tersebut real terjadi dan menyulitkan beberapa guru (khususnya guru SD) di Indonesia saat ini. Yang menjadikan salah satu penyebab memburuknya sistem pendidikian di Indonesia.
Guru saat ini banyak yang masih menggunakan metode pembelajaran yang masih sangat sederhana, seperti metode ceramah. Seiring dengan perkembangan zaman, guru teladan dituntut untuk mengajar menggunakan sistem/ metode pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan fleksibel. Adapun metode pembelajaran yang bisa dikembangkan diantaranya melalui metode diskusi, latihan, kerja praktek, dan refleksi. Kenyataannya, dengan metode tersebut pun guru masih belum bisa menempatkan perannya dengan baik. Contohnya, saat siswa sedang melakukan diskusi dengan kelompoknya, guru masih saja memberikan ceramah. Padahal seharusnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan diskusi dahulu, baru setelah itu jika guru ingin mengutarakan sesuatu lebih baik dibahas bersama ketika proses diskusi selesai. Dalam hal ini, guru juga harus memiliki sopan santun kepada siswa.
Keberhasilan metode pembelajaran melalui metode diskusi selama ini belum dapat dicapai karena persoalan siswa dalam pembelajaran matematika ada pada guru. Misalnya, ketika mengajar guru terlalu tergesa-gesa dan metode diskusi ini belum biasa diterapkan dalam pembelajaran. Faktanya, guru saat ini hanya sekedar bertanya dan memberi perintah saja, padahal apa yang dilakukan guru tersebut belum dapat dikatakan sebagai metode diskusi karena belum tepat jika dikaitkan dengan teori yang sudah ada. Sebagai seorang guru atau calon guru matematika yang inovatif dituntut untuk selalu melakukan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan tentang pembelajaran matematika sesuai dengan perkembangan zaman. Usaha tersebut dapat dicapai jika dikembangkan suatu metode ilmiah yang memenuhi sifat koherensi dan sifat korespondensi. Koherensi maksudnya dianggap benar berdasarkan perjanjian/ kesepakatan, yang penting seseorang harus konsisten pada perjanjian. Korespondensi maksudnya tidak bisa menjamin/ cocok dengan pengamatan.
Salah satu faktor yang menghambat tingkat keberhasilan siswa dalam belajar matematika adalah karena siswa mulai kehilangan intuisinya. Intuisi adalah pengetahuan atau pemahaman yang tidak bisa dijelaskan atau didefinisikan jelas begitu saja melalui komunikasi, formal, dan normatif. Intuisi tidak hanya milik anak kecil saja. Orang dewasa pun memiliki dan dapat mengembangkan intuisinya. Pada hakikatnya, intuisi itu ada di hati, pikiran, tulisan/kata-kata, dan tindakan. Keempat hal tersebut saling berkaitan, dan tidak bisa berjalan dengan baik jika seseorang hanya memiliki satu atau dua dari keempat hal tersebut. Jadi, intuisi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk mengembangkan intuisi melalui beberapa tahap. Cara mengembangkan intuisi, pembelajaran dilakukan melalui tahap material, formal, normatif dan melalui spiritual.
Ilmu diibaratkan sebagai kepala manusia yang terdiri dari gabungan pikiran(logika) dan pengalaman. Keduanya saling terkait. Misalnya, jika seseorang mempunyai pemikiran yang baik, tetapi tidak mempunyai pengalaman maka tidak akan bermanfaat. Maka, untuk mendapat ilmu pokok maka harus menggabungkan antara pikiran dan pengalaman. Logika atau pikiran bersifat "analitik a priori", analitik berarti berdasarkan suatu perjanjian dan tidak memikirkan kedepannya bermanfaat atau tidak, a priori berarti bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman bersifat "sintetik a posteriori", sintetik berarti pengalaman dan a posteriori brarti bisa memikirkan jika peristiwanya sudah terjadi. Sehingga Immanuel Kant berpendapat bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat "sintetik a priori".
Secara garis besar, cara berpikir seseorang dibagi menjadi dua hal yakni metode induksi(menyimpulkan) dan deduksi(memahami). Metode deduksi diterapkan untuk matematika murni/formal yang melalui beberapa tahap, yakni menetapkan definisi, membuat aksioma, membuat teorema baru, kemudian digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Dalam kehidupan sehari-hari sebetulnya deduksi itu sangat alami. Proses deduksi adalah proses memahami dari kesan umum menuju ke kesan khusus. Sedangkan metode induksi adalah berusaha menyimpulkan dari berbagai peristiwa dari yang khusus ke umum. Namu, sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari metode yang digunakan harus dinamis. Metode induksi digunakan untuk menemukan pola-pola atau contoh, hakikatnya bersifat khusus. Sedangkan metode deduksi digunakan untuk menemukan rumus-rumus baru, hakikatnya bersifat umum.

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition


http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6933.html

Saya sependapat dengan artikel tersebut, bahwa intuisi matematika itu adalah subject to cultural forces (budaya bermatematika) dan intuisi matematika sangat penting untuk menghasilkan suatu ide-ide/gagasan matematika. Intuisi dalam pembelajaran matematika muncul melalui tahap pengalaman(experience) matematika. Untuk mendapatkan pengalaman tersebut siswa dapat diberikan pemahaman oleh guru untuk memahami konsep dasar matematika karena akan memberikan pengalaman langsung yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari beserta pemecahannya. Sehingga dalam kehidupannya siswa akan terbiasa untuk mandiri dan bertindak lebih baik lagi dari pengalaman sebelumnya agar siswa dapat mengeluarkan semua potensi-potensi yang dimilikinya. Maka dari itu agar hal tersebut dapat terwujud dibutuhkan pula peranan dari berbagai pihak seperti guru, sekolah, orangtua dan lingkungan untuk membudayakan matematika yang dapat membantu mempermudah kehidupan siswa(misalnya dalam proses perdagangan). Karena dengan membudayakan matematika dapat menjadikan siswa terbiasa dengan ilmu matematika yang dapat memperluas pengalaman siswa.

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?

Dari pernyataan yang ditulis dalam artikel tersebut saya lebih tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Immanuel Kant mengenai kebenaran bahwa matematika adalah sebuah ilmu. Karena sampai saat ini belum ada kepastian mengenai hakekat matematika sebagai sebuah ilmu sebab pengetahuan dan pandangan masing-masing orang berbeda-beda. Menurut Kant, matematika akan menjadi sebuah ilmu jika dibangun di atas intuisi yang didalamnya berupa suatu kerangka ruang dan waktu. Dalam perjalanannya, intuisi dapat diperoleh melalui pengalaman(experience). Oleh karena itu, untuk mewujudkan matematika sebagai suatu ilmu maka diperlukan suatu pembelajaran inovatif yang dapat menjadikan siswa dapat berpikir aktif. Guru berperan sebagai stimulan untuk membantu siswa menemukan pemahamannya sendiri. Sehingga, siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman langsung yang dapat diimplementasikannya dalam kehidupannya kelak.

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_8459.html

Refleksi To Develop Lesson Plan for Secondary Mathematics Teaching (Mengembangkan RPP Untuk PBM Matematika di SMP)


http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/to-develop-lesson-plan-for-secondary.html

Setelah guru membuat program pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus mengimplementasikan silabus tersebut dengan menyusun suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP dapat diartikan sebagai suatu acuan, dasar, atau pegangan bagi seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran baik dikelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, RPP harus berisi hal-hal yang berkaitan langsung dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. RPP harus memuat secara rinci mengenai Tujuan pembelajaran, Materi pembelajaran, Metode pembelajaran, Langkah-langkah kegiatan pembelajaran, Sumber belajar dan penilaian. RPP juga harus mengandung seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru diarahkan untuk dapat membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga secara perlahan akan dengan mudah menggeser paradigma lama yaitu pembelajaran yang berorientasi pada guru menuju ke pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam melayani kebutuhan siswa dalam belajar matematika menjadi sangat penting. Kemudian pada kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan Kompetensi dasar (KD).
Dalam tahap ini, kegiatan pembelajan dikembangkan dengan apik melalui metode pembelajaran yang inovatif, interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan memberikan keleluasan ruang gerak siswa untuk bergerak aktif tanpa batas agar siswa dapat mandiri sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik-psikis siswa. Guru juga harus dapat menyusun dan mengembangkan bahan ajar yang dapat berupa(buku, internet, dan ICT) untuk menunjang keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Bahan ajar yang lain dapat berupa LKS (Lembar Kerja Siswa) bisa disusun oleh guru yang berfungsi sebagai sumber informasi, teori, atau penemuan terbimbing. Sehingga LKS tidak hanya difungsikan sebagai kumpulan soal semata melainkan sebagai sumber informasi untuk siswa. Bahar ajar tersebut pada dasarnya berfungsi untuk membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran, agar siswa tidak semata-mata menjadi pendengar saja melainkan siswa diajak berdiskusi melalui bahan ajar yang disediakan oleh guru. Sumber ajar/ bahan ajar yang lain dapat berupa buku-buku pelajaran bidang studi tertentu yang berbeda-beda. Sumber belajar juga dapat berupa informasi yang terdapat di internet. Jadi, setiap kali proses pembelajaran guru tidak hanya mengacu pada satu sumber belajar saja.
Pada tahapan kegiatan penutup, guru mengakhiri proses pembelajaran yang dapat dilakukan dengan bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian, refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Dan untuk mencapai keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, dibutuhkan pula media pembelajaran yang bervariasi dan lebih kreatif yang dapat dikembangkan melalui media pembelajaran berbasis IT seiring dengan perkembangan zaman. Diharapkan, dengan adanya instrumen-intrumen tersebut dapat mewujudkan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga, siswa merasa nyaman dan senang selama proses pembelajaran.


Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics


powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_5936.html

Matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektualitas siswa. Hakikat Matematika Sekolah (School Mathematics) menurut Ebbut and Straker (1995) adalah suatu rangkaian kegiatan penelusuran pola atau hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi dan komunikasi yang sistematis dan saling berkaitan. Dengan hakikat matematika sekolah tersebut diharapkan agar siswa kedepannya dapat membangun matematikanya sendiri. Siswa dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan mandiri serta aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar sehingga peran serta guru hanyna sebagai fasilisator dan pendamping siswa dalam pembelajaran, sedangkan siswa diberi kebebasan untuk membangun matematikanya sendiri. Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa bahwa belajar matematika adalah sebuah kebutuhan karena selama proses belajar dan mengajar lebih menekankan pada keaktifan siswa. Sehingga menghasilkan generasi-generasi bangsa yang memiliki daya saing dan intelektualitas tinggi. Melalui kegiatan penelusuran dan hubungan, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan penelitian untuk mengetahui pola-pola yang ada dan menghubungkan pola-pola tersebut sehingga menghasilkan suatu produk matematika. Siswa dibiarkan kebebasan untuk melakukan kegiatan penelusuran melalui metode atau caranya sendiri sehingga siswa dapat lebih mandiri karena siswa dapat menyimpulkan sesuatu sesuai dengan hasil penelitiannya. Namun, guru juga harus terlibat langsung dalam penelitian mengingat peran guru disini sebagai fasilisator dan pendamping siswa. Kemudian hakikat matematika sekolah selanjutnya adalah kegiatan problem solving. Hakikat ini memiliki peranan yang sangat penting karena melalui kegiatan ini akan mendorong siswa untuk lebih aktif, berpikir logis dan sistematis. Siswa juga dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Kegiatan investigasi berfungsi untuk melatih dan mendorong keingintahuan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan dalam matematika. Matematika adalah komunikasi dalam hakikat matematika sekolah akan memotivasi siswa untuk memecahkan permasalahan matematika melalui interaksi yang dilakukannya dengan siswa lain. Kemudian dalam pembelajaran matematika melalui diskusi kelompok juga akan melatih siswa untuk dapat lebih bersosialisasi dengan lingkungannya. Karena melalui diskusi kelompok siswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri untuk menemukan pemecahan permasalahan matematika sendiri.
Keempat hakikat (rangkaian kegiatan) tersebut, saat ini diasumsikan sebagai alternatif agar matematika di sekolah menjadi lebih ramah dan menyenangkan bagi peserta didik.

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1: Intuisi dalam Matematika


powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan.html

Intuisi adalah suatu pemahaman atau pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan dan tidak bisa didefinisikan secara jelas karena pengetahuan tersebut datang secara langsung atau tiba-tiba tanpa disertai penjelasan sebelumnya. Pada dasarnya, secara spiritual intuisi itu berada dalam hati. Intuisi juga berada dalam pikiran(diimplementasikan melalui pembiasaan berpikir positif), berada di tulisan atau kata-katanya serta berada dalam tindakan seseorang. Intuisi tidak hanya milik anak kecil saja. Sebab, orang dewasa pun memiliki intuisi yang sejatinya dibawa sejak lahir yang dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Intuisi dalam matematika itu adalah subject to cultural forces (budaya bermatematika) dan intuisi matematika sangat penting untuk menghasilkan suatu ide-ide/gagasan matematika. Intuisi dalam pembelajaran matematika muncul melalui tahap pengalaman(experience) matematika. Sehingga, intuisi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Misalnya saja, untuk melakukan suatu inovasi dalam pembelajaran, guru wajib memiliki intuisi. Karena, kenyataannya guru zaman ini banyak yang merampas intuisi yang dimiliki oleh siswa ketika dalam proses pembelajaran melalui metode-metode pembelajaran yang diterapkan. Metode tradisional yang diterapkan guru seringkali mengakibatkan siswanya merasa tidak nyaman dan semakin lama akan menimbulkan kebosanan dalam diri siswa. Untuk itu diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan di Indonesia untuk menuju pendidikan yang lebih baik.

Refleksi (Pembelajaran Matematika Seperti Apa yang Kita Harapkan di SD ?


Sampai saat ini, masih ada Sekolah Dasar (SD) yang memberikan layanan pembelajaran seadanya kepada para siswanya, sementara disisi lain, tidak sedikit pula SD yang telah memiliki siste, pembelajaran inovatif yang didukung oleh sarana-prasarana yang memadai dan telah memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SD. Salah satunya yakni dengan terus meningkatkan profesionalisme guru melalui penataran, seminar, dan lain-lain. Dalam hal ini dilakukan untuk memperbaiki sistem pembelajaran agar lebih efektif dan bermakna bagi siswa.
Dari artikel tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa tidak dibutuhkan metode khusus dalam mempelajari matematika. Pada dasarnya, berbagai macam pendekatan dapat diterapkan dalam mempelajari matematika yang dapat dilakukan secara bersamaan namun dalam porsi yang berbeda tergantung karakteristik siswa. Salah satu metode yang bisa diterapkan sesuai dengan yang dituliskan dalam artikel, yakni langkah-langkah pembelajaran matematika yang realistik. Melalui metode tersebut, siswa dapat secara luas berperan aktif dalam proses pembelajaran karena guru tidak hanya memberikan materi pelajaran melulu. Guru hanya perlu memberikan gambaran atau memberikan sejenis pancingan kepada siswa(dalam hal ini guru berperan sebagai stimulus) agar dapat memicu keingintahuan siswa tentang materi pembelajaran yang akan diberikan. Dengan didampingi guru, siswa dibiarkan untuk memahami dan menemukan pengetahuan sendiri dari fasilitas yang diberikan oleh guru. Sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya bergantung pada guru semata.
Melalui metode tersebut siswa juga dapat menemukan pemecahan masalah sendiri sesuai dengan permasalahan yang disuguhkan guru yang terjadi pada kehidupan siswa sehari-hari. Selanjutnya, siswa akan menjadi kreatif dan mandiri karena mereka dapat menghasilkan pemikiran sendiri untuk memecahkan suatu permasalahan yang mereka teliti melalui berbagai metode yang telah mereka lakukan. Namun, apakah metode tersebut efektif dan efisien untuk dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran jika dilakukan setiap hari ? apa tidak malah membuat siswa semakin bingung ?


powermathematics.blogspot.com/2008/11/pembelajaran-matematika-seperti-apa.html

Refleksi (Peran Penelitian Dalam Pembelajaran Matematika)

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/peran-penelitian-dalam-pengembangan.html

Pendidikan matematika selalu mengalami perkembangan sesuai dengan waktu dan perkembangan zaman. Sehingga dengan perlahan akan mengubah pemikiran kita tentang hakekat matematika dan pembelajarannya. Tugas pokok seorang guru adalah mengajar, mendidik, melakukan penelitian dan mengapdikan diri kepada masyarakat. Dari pernyataan tersebut dapat terlihat jelas bahwa suatu penelitian memiliki peranan yang cukup besar dalam proses mengembangkan dan memajukan pendidikan khususnya di Indonesia. Penelitian secara esensial merupakan suatu kegiatan untuk memecahkan suatu masalah terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Penelitian dapat menghasilkan suatu pengetahuan yang dapat digunakan seorang guru untuk memperoleh suatu pemahaman mengenai jalan pikiran peserta didik dalam hal pembelajaran matematika. Melalui penelitian pula, guru dapat mengetahui secara riil tentang berbagai masalah yang muncul di bidang pendidikan yang ada. Ketika seorang guru telah melakukan penelitian, tentunya akan menghasilkan suatu produk yang sudah diuji keefektifannya. Produk tersebut dapat berupa metode-metode pembelajaran baru yang lebih inovatif dan variatif yang nantinya akan diimplementasikan guru didalam suatu kegiatan pembelajaran. Sehingga akan memunculkan suasana berbeda yang lebih kondusif yang nantinya akan memunculkan minat siswa dalam mempelajari materi pelajaran (dalam hal ini matematika) dan tidak memunculkan lagi kebosanan dalam diri siswa.