Minggu, 03 Maret 2013

Refleksi pertemuan ke-3 Mata Kuliah Konsep Dasar Matematika SD 2

Hari ketiga pertemuan mata kuliah Konsep Dasar Matematika SD 2 membicarakan mengenai beberapa pertanyaan atau persoalan yang sudah diajukan mahasiswa diawal pertemuan. Meliputi persoalan-persoalan yang mungkin akan dialami oleh mahasiswa kelak ketika menjadi seorang guru. Beberapa persoalan tersebut real terjadi dan menyulitkan beberapa guru (khususnya guru SD) di Indonesia saat ini. Yang menjadikan salah satu penyebab memburuknya sistem pendidikian di Indonesia.
Guru saat ini banyak yang masih menggunakan metode pembelajaran yang masih sangat sederhana, seperti metode ceramah. Seiring dengan perkembangan zaman, guru teladan dituntut untuk mengajar menggunakan sistem/ metode pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan fleksibel. Adapun metode pembelajaran yang bisa dikembangkan diantaranya melalui metode diskusi, latihan, kerja praktek, dan refleksi. Kenyataannya, dengan metode tersebut pun guru masih belum bisa menempatkan perannya dengan baik. Contohnya, saat siswa sedang melakukan diskusi dengan kelompoknya, guru masih saja memberikan ceramah. Padahal seharusnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan diskusi dahulu, baru setelah itu jika guru ingin mengutarakan sesuatu lebih baik dibahas bersama ketika proses diskusi selesai. Dalam hal ini, guru juga harus memiliki sopan santun kepada siswa.
Keberhasilan metode pembelajaran melalui metode diskusi selama ini belum dapat dicapai karena persoalan siswa dalam pembelajaran matematika ada pada guru. Misalnya, ketika mengajar guru terlalu tergesa-gesa dan metode diskusi ini belum biasa diterapkan dalam pembelajaran. Faktanya, guru saat ini hanya sekedar bertanya dan memberi perintah saja, padahal apa yang dilakukan guru tersebut belum dapat dikatakan sebagai metode diskusi karena belum tepat jika dikaitkan dengan teori yang sudah ada. Sebagai seorang guru atau calon guru matematika yang inovatif dituntut untuk selalu melakukan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan tentang pembelajaran matematika sesuai dengan perkembangan zaman. Usaha tersebut dapat dicapai jika dikembangkan suatu metode ilmiah yang memenuhi sifat koherensi dan sifat korespondensi. Koherensi maksudnya dianggap benar berdasarkan perjanjian/ kesepakatan, yang penting seseorang harus konsisten pada perjanjian. Korespondensi maksudnya tidak bisa menjamin/ cocok dengan pengamatan.
Salah satu faktor yang menghambat tingkat keberhasilan siswa dalam belajar matematika adalah karena siswa mulai kehilangan intuisinya. Intuisi adalah pengetahuan atau pemahaman yang tidak bisa dijelaskan atau didefinisikan jelas begitu saja melalui komunikasi, formal, dan normatif. Intuisi tidak hanya milik anak kecil saja. Orang dewasa pun memiliki dan dapat mengembangkan intuisinya. Pada hakikatnya, intuisi itu ada di hati, pikiran, tulisan/kata-kata, dan tindakan. Keempat hal tersebut saling berkaitan, dan tidak bisa berjalan dengan baik jika seseorang hanya memiliki satu atau dua dari keempat hal tersebut. Jadi, intuisi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk mengembangkan intuisi melalui beberapa tahap. Cara mengembangkan intuisi, pembelajaran dilakukan melalui tahap material, formal, normatif dan melalui spiritual.
Ilmu diibaratkan sebagai kepala manusia yang terdiri dari gabungan pikiran(logika) dan pengalaman. Keduanya saling terkait. Misalnya, jika seseorang mempunyai pemikiran yang baik, tetapi tidak mempunyai pengalaman maka tidak akan bermanfaat. Maka, untuk mendapat ilmu pokok maka harus menggabungkan antara pikiran dan pengalaman. Logika atau pikiran bersifat "analitik a priori", analitik berarti berdasarkan suatu perjanjian dan tidak memikirkan kedepannya bermanfaat atau tidak, a priori berarti bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman bersifat "sintetik a posteriori", sintetik berarti pengalaman dan a posteriori brarti bisa memikirkan jika peristiwanya sudah terjadi. Sehingga Immanuel Kant berpendapat bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat "sintetik a priori".
Secara garis besar, cara berpikir seseorang dibagi menjadi dua hal yakni metode induksi(menyimpulkan) dan deduksi(memahami). Metode deduksi diterapkan untuk matematika murni/formal yang melalui beberapa tahap, yakni menetapkan definisi, membuat aksioma, membuat teorema baru, kemudian digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Dalam kehidupan sehari-hari sebetulnya deduksi itu sangat alami. Proses deduksi adalah proses memahami dari kesan umum menuju ke kesan khusus. Sedangkan metode induksi adalah berusaha menyimpulkan dari berbagai peristiwa dari yang khusus ke umum. Namu, sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari metode yang digunakan harus dinamis. Metode induksi digunakan untuk menemukan pola-pola atau contoh, hakikatnya bersifat khusus. Sedangkan metode deduksi digunakan untuk menemukan rumus-rumus baru, hakikatnya bersifat umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar