Hari
ketiga pertemuan mata kuliah Konsep Dasar Matematika SD 2
membicarakan mengenai beberapa pertanyaan atau persoalan yang sudah
diajukan mahasiswa diawal pertemuan. Meliputi persoalan-persoalan
yang mungkin akan dialami oleh mahasiswa kelak ketika menjadi seorang
guru. Beberapa persoalan tersebut real terjadi dan menyulitkan
beberapa guru (khususnya guru SD) di Indonesia saat ini. Yang
menjadikan salah satu penyebab memburuknya sistem pendidikian di
Indonesia.
Guru
saat ini banyak yang masih menggunakan metode pembelajaran yang masih
sangat sederhana, seperti metode ceramah. Seiring dengan perkembangan
zaman, guru teladan dituntut untuk mengajar menggunakan sistem/
metode pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan fleksibel. Adapun
metode pembelajaran yang bisa dikembangkan diantaranya melalui metode
diskusi, latihan, kerja praktek, dan refleksi. Kenyataannya, dengan
metode tersebut pun guru masih belum bisa menempatkan perannya dengan
baik. Contohnya, saat siswa sedang melakukan diskusi dengan
kelompoknya, guru masih saja memberikan ceramah. Padahal seharusnya
siswa diberi kesempatan untuk melakukan diskusi dahulu, baru setelah
itu jika guru ingin mengutarakan sesuatu lebih baik dibahas bersama
ketika proses diskusi selesai. Dalam hal ini, guru juga harus
memiliki sopan santun kepada siswa.
Keberhasilan
metode pembelajaran melalui metode diskusi selama ini belum dapat
dicapai karena persoalan siswa dalam pembelajaran matematika ada pada
guru. Misalnya, ketika mengajar guru terlalu tergesa-gesa dan metode
diskusi ini belum biasa diterapkan dalam pembelajaran. Faktanya, guru
saat ini hanya sekedar bertanya dan memberi perintah saja, padahal
apa yang dilakukan guru tersebut belum dapat dikatakan sebagai metode
diskusi karena belum tepat jika dikaitkan dengan teori yang sudah
ada. Sebagai
seorang guru atau calon guru matematika yang inovatif dituntut untuk
selalu melakukan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan
pengetahuan tentang pembelajaran matematika sesuai dengan
perkembangan zaman. Usaha tersebut dapat dicapai jika dikembangkan
suatu metode ilmiah yang memenuhi sifat koherensi dan sifat
korespondensi. Koherensi maksudnya dianggap benar berdasarkan
perjanjian/ kesepakatan, yang penting seseorang harus konsisten pada
perjanjian. Korespondensi maksudnya tidak bisa menjamin/ cocok dengan
pengamatan.
Salah
satu faktor yang menghambat tingkat keberhasilan siswa dalam belajar
matematika adalah karena siswa mulai kehilangan intuisinya. Intuisi
adalah pengetahuan atau pemahaman yang tidak bisa dijelaskan atau
didefinisikan jelas begitu saja melalui komunikasi, formal, dan
normatif. Intuisi tidak hanya milik anak kecil saja. Orang dewasa pun
memiliki dan dapat mengembangkan intuisinya. Pada hakikatnya, intuisi
itu ada di hati, pikiran, tulisan/kata-kata, dan tindakan. Keempat
hal tersebut saling berkaitan, dan tidak bisa berjalan dengan baik
jika seseorang hanya memiliki satu atau dua dari keempat hal
tersebut. Jadi, intuisi memiliki peran yang sangat penting dalam
kehidupan seseorang. Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk
mengembangkan intuisi melalui beberapa tahap. Cara mengembangkan
intuisi, pembelajaran dilakukan melalui tahap material, formal,
normatif dan melalui spiritual.
Ilmu
diibaratkan sebagai kepala manusia yang terdiri dari gabungan
pikiran(logika) dan pengalaman. Keduanya saling terkait. Misalnya,
jika seseorang mempunyai pemikiran yang baik, tetapi tidak mempunyai
pengalaman maka tidak akan bermanfaat. Maka, untuk mendapat ilmu
pokok maka harus menggabungkan antara pikiran dan pengalaman. Logika
atau pikiran bersifat "analitik
a priori",
analitik berarti
berdasarkan suatu perjanjian dan tidak memikirkan kedepannya
bermanfaat atau tidak,
a
priori
berarti bisa
memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan
pengalaman bersifat "sintetik
a posteriori",
sintetik berarti pengalaman dan a
posteriori
brarti bisa memikirkan jika peristiwanya sudah terjadi. Sehingga
Immanuel
Kant berpendapat bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia
haruslah bersifat "sintetik
a priori".
Secara
garis besar, cara berpikir seseorang dibagi menjadi dua hal yakni
metode induksi(menyimpulkan) dan deduksi(memahami). Metode deduksi
diterapkan untuk matematika murni/formal yang melalui beberapa tahap,
yakni menetapkan definisi, membuat aksioma, membuat teorema baru,
kemudian digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Dalam
kehidupan sehari-hari sebetulnya deduksi itu sangat alami. Proses
deduksi adalah proses memahami dari kesan umum menuju ke kesan
khusus. Sedangkan metode induksi adalah berusaha menyimpulkan dari
berbagai peristiwa dari yang khusus ke umum. Namu, sebetulnya dalam
kehidupan sehari-hari metode yang digunakan harus dinamis. Metode
induksi digunakan untuk menemukan pola-pola atau contoh, hakikatnya
bersifat khusus. Sedangkan metode deduksi digunakan untuk menemukan
rumus-rumus baru, hakikatnya bersifat umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar