http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_29.html
Dewasa
ini, matematika dianggap sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan
yang lain. Dapat dikatakan seperti tersebut karena ilmu matematika
dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan sehari-hari, misalnya
dalam kegiatan perdagangan, teknologi dan lain sebagainya. Banyak
ilmu-ilmu yang ditemukan dan dikembangkan melalui ilmu matematika.
Ilmu matematika dipelajari mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD)
hingga Perguruan Tinggi. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap
matematika sebagai momok tersendiri. Hal tersebut dapat terjadi salah
satunya karena kurangnya intuisi yang dimiliki siswa terhadap ilmu
matematika . Karena pada kenyataannya sistem pembelajaran yang
dianut oleh sekolah sekolah di Indonesia lebih menekankan aspek
kognitif saja. Para guru dan pihak sekolah seakan melupakan aspek
afektif dan psikomotorik yang seharusnya juga dimiliki oleh siswa.
Sebagian besar dari guru menginginkan hasil Ujian Nasional yang
memuaskan. Padahal, dengan adanya statement tersebut siswa malah
merasa tertekan dan terbebani. Bukannya siap, siswa malah menjadi
gugup dan menjadi konsentrasi dalam mempersiapkan Ujian Nasional.
Pihak sekolah seakan lebih berorientasi pada nilai akhir saja tanpa
memperhatikan prosesnya. Misalnya, saat menjelang Ujian Nasional
guru-guru memberikan rumus-rumus praktis untuk mengerjakan soal-soal
tertentu. Padahal yang seharusnya dilakukan guru untuk membantu siswa
dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam matematika adalah dengan
memberitahukan seluk beluk/ proses dari permasalahan tersebut.
Sehingga, siswa tahu proses untuk menemukan pemecahan dari suatu
masalah tersebut. Yang nantinya, jika siswa sudah tahu proses
panjangnya maka akan membuat siswa menjadi lebih kreatif untuk
menemukan sendiri rumus-rumus praktis tanpa batas.
Oleh
karena itu, guru seharusnya memberikan pembelajaran matematika
melalui prosedur yang sistematis. Sehingga akan diperoleh suatu hasil
yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan oleh kedua pihak
(pihak sekolah dan siswa) yang dapat berupa pengetahuan, pengalaman,
dan keterampilan tertentu yang dapat digunakan siswa dalam kehidupan
sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar