Selasa, 30 April 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 28: Tasyakuran Ke Satu (Proyek Syurga)

Bagaimana cara mengembangkan proyek menghuni syurga, berikut ini adalah beberapa cara diantaranya:
-Memelihara waktu shalat
-Menghadiri salat berjamaah
-Bertasbih dengan tasbih azzahra, terutama setelah salat
-Selalu membaca shalawat kepada muhammad dan keluarganya
-Selalu beristighfar dan memohonkan ampunan
-Selalu berzikir kepada allah
-Salat-salat sunat harian
-Menyambungkan silaturahmi terutama dengan orang tua
-Menyesali dosa
-Bergaul baik antara suami isteri
Dari sepuluh proyek menghuni surga tersebut, saya tertarik dengan “menghadiri salat berjamaah”. Sebagian dari muslim yang memiliki rutinitas yang padat, kebanyakan lebih memilih untuk solat munfarid dan seringkali melupakan untuk solat berjamaah. Padahal solat berjamaah memiliki beberapa keutamaan yang tidak diragukan lagi.
Solat berjamaah dianggap urgen bagi kaum muslimin dan bagi setiap individu yang ada di dalamnya. Allah ta’ala telah menjanjikan untuknya pahala yang besar dan Rosulullah senantiasa memotivasi untuk mengerjakannya. Dan beliau telah memberitahu bahwa seseorang yang melakukan solatnya secara berjamaah jauh lebih utama daripada solat sendirian dan bahwa solat berjamaah merupakan sebab terjaganya kaum muslimin dari syaitan.


REFLEKSI Elegi Ritual ikhlas 27: Silaturakhim Para Ikhlas


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-silaturakhim-para-ikhlas.html
Islam adalah agama yang indah karena di dalamnya mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan. Islam sangat menganjurkan seorang muslim untuk saling bersilaturahmi. Silaturahmi maknanya yakni sebagai penyambung tali persaudaraan kepada kerabat. Silaturahmi merupakan ibadah yang agung, mudah dan membawa berkah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan silaturahmi, diantaranya dengan berziarah, memberi hadiah, memberi nafkah, berlaku lemah lembut, bermuka manis (senyum), memuliakannya dan semua yang manusia itu menganggapnya silaturahmi. Allah SWT telah menganjurkan hambaNya untuk saling menyambung silaturahmi dalam beanyak hadist, diantaranya ialah firma Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi” (QS. An-nisa’: 1).
Tidaklah Islam memerintahkan sesuatu, kecuali pasti ada kebaikan dan keutamaan yang akan didapatkan pelakunya. Silaturahmi juga mempunyai keutamaannya, diantaranya yakni:
a.       Merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya
b.      Saling bersilaturahmi akan menambah berkah umur dan rizki
c.       Seseorang yang saling bersilaturahmi insyaallah akan masuk ke surga dan jauh dari neraka
d.      Silaturahmi merupakan amalan yang paling dicintai Allah dan paling utama.
Kemudian seorang muslim yang menjauhi dan tidak melakukan silaturahmi maka dia tidaka akan masuk surga. Kehidupannya didunia akan diliputi dengan siksa dan kelak di akhirat juga akan mendapatkan siksa  yang lebih dari kehidupan dunia. Semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang menjauhi dan memutus silaturahmi.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-perlombaan-menjunjung-langit.html
Sesungguhnya seorang muslim adalah seorang pemenang, karena seorang muslim adalah yang terbaik diantara manusia. Jika pun ras manusia dilahirkan bukan di bumi maka dimanapun ras manusia berada, seorang muslim lah yang menjadi terbaik. Seorang pemenang haruslah memiliki ilmu dunia dan ilmu akhirat, keihlasan, kejujuran, niat yang tulus dan baik, serta didasari oleh perilaku yang terpuji.
Dalam elegi diatas diceritakan mengenai perlombaan menjunjung langit. Digambarkan bahwa orang yang memiliki kesombongan tidak akan menjadi seorang pemenang atau bahkan akan mati. Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong maka dia tidak akan menjadi seorang pemenang, karena ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka seseorang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Dalam surah (Al-Isra' 17:37) ALLAH SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Akibat buruk dari sikap sombong kepada Allah akan menyebabkan kehinaan dan kesengsaraan. Dan tidak mungkin seseorang yang sombong akan memiliki kesuksesan. Kalaupun sukses pasti hanya sementara saja. Karena, sifat sombong ini akan menutup rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Sifat sombong juga akan mengundang azab dan siksa dari Allah SWT. Selain itu juga akan menjauhkan manusia dengan menusia lain. Karena tidak ada satupun manusia yang suka dengan sombong. Maka dari itu marilah kita menghindari sifat sombong dan bersama-sama bersyukur kepada allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Al-qur’an surah Lugman: 12 yang artinya, “Dan barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”.




REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 25: Menggapai DirI



Dari elegi yang berjudul, “Elegi Ritual Ikhlas 25: Menggapai Diri” diatas telah memperingatkan kita bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah cerminan dari sikap dan perilaku kita. Baik dan buruknya segala tingkah laku hanya kita yang dapat menentukan. Setiap manusia pasti memiliki hati. Hati adalah landasan/ kunci yang mengarah pada baik dan buruknya kehidupan seseorang. Hati yang bersih akan membantu manusia untuk dapat lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Mereka yang berhati bersih akan selalu mempertimbangkan sisi baik dan sisi buruk yang mungkin ditimbulkan dari perilakunya. Mulai dari menjaga lisan, menjaga sikap, perilaku dan sebagainya agar tidak menimbulkan akibat yang buruk bagi hidup kita dan kehidupan orang di sekeliling kita.
Kesombongan dan ego yang berlebihan dapat menjadi penghalang untuk memperoleh ilmu dan hidayah Allah SWT. Maka dari itu, segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari dengan niat ikhlas untuk mendapatkan ridhoNya dan semoga Dia akan melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita. 
 

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 24: Menggapai Doa dan Ikhtiar


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-menggapai-doa-dan-ikhtiar.html
Ikhtiar adalah suatu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik kebutuhan material, spiritual, kesehatan dan lain-lain. Ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Seseorang yang berikhtiar berarti dia memilih suatu pekerjaan kemudian dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dan sukses. Kita sebagai seorang muslim hendaknya selalu berikhtiar sekuat tenaga dan mengeluarkan kemampuannya semaksimal mungkin. Sesunggguhnya, setelah berikhtiar maka kita harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Manusia wajib berusaha namun pada akhirnya tetap Allah lah yang menentukan. Menurut teorinya, suatu cita-cita itu dapat diraih dengan dua cara yang saling bersinergis, yaitu berdoa dan ikhtiar seperti yang tertera di atas. Sebab, Allah pun telah memerintahkan kepada kita untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh (berikhtiar) untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya, “...Sesungguhnya allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri … ( QS. Ar-Ra’du 11 ).