Kamis, 25 April 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 16: Menggapai Hamba Bersahaja



Elegi yang berjudul “Elegi Ritual Ikhlas 16: Menggapai Hamba Bersahaja” di atas memberikan pelajaran untuk bermujahadah  melawan hawa nafsu yang tidak baik. Sesungguhnya mujahadah ialah memerangi hawa nafsu yang mengatasi segala kelemahan diri untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Bermujahadad tidak hanya dilakukan pada keadaan tertentu saja (seperti bila dalam kesulitan), tetapi bermujhadah harus senantiasa dilakukan secara rutin karena mujahadah dapat melawan hawa nafsu yang tidak baik. Pada dasarnya, nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran, yaitu: ketekunannya menuruti shahwat dan mencegah ketaatannya. Jika seseorang gemar berbuat dosa dan maksiat maka hatinya telah dikuasai oleh hawa nafsu yang nantinya akan menjadi penyakit hati. Penyakit hati menyusup kedalam akhlak melalui tiga jalan, yaitu: memakan barang haram, kebiasaan(memandang dan merasakan nikmat dengan barang haram) yang dilaksanakan terus menerus, dan kerusakan pergaulan.
Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikan maupun keburukan. Jika Allah SWT berkenan menghampiri, maka jiwa dan hati begitu dekat denganNya. Kemanapun seseorang memalingkan wajah maka yang tampak adalah rakhmat dan hidayahNya. Oleh karena itu, maka sebagai seorang muslim kita harus senantiasa  menjaga diri dengan sepenuh hati dengan cara selalu bermujahadah, yaitu mengendalikan hawa nafsu yang tidak baik, mengarahkan ke hawa nafsu yang baik-baik, meningkatkan ketaqwaan terhadapAllah SWT, dan selalu memohon ampun dan pertolongan Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, jangnalah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munaafiquun 63: 9). Dari ayat tersebut, sudah dijelaskan bahwa seorang muslim hidup di dunia ini hanyalah untuk menggapai ridho Allah SWT, bukan untuk mengejar harta semata. Namun, seringkali orang menjadi lupa disebabkan oleh harta yang dimilikinya. Bukannya ia tambah bersyukur tetapi justru menuruti hawa nafsunya. Banyak harta yang akan membuka peluang bagi seseorang untuk berbuat sekehendak hatinya. Jika tidak terkontrol dengan iman dan taqwa, maka seseorang akan menjadi budak nafsunya sendiri. Itulah sebabnya Allah berpesan agar kita tidak lupa kepadaNya disaat mendapatkan harta yang berlimpah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar