Rabu, 24 April 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 14: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas



Sesungguhnya kebahagiaan orang tua itu selalu tertanam di hati sanubari seraya bertawakal dan bersyukur kepada Allah SWT ketika melihat perjuangan anaknya itu tidak hanya diperuntukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga diperuntukan demi keluarga, masyarakat, agama dan negaranya. Kasih sayang, doa-doa orangtua selalu teriring kemanapun jejak anak menapak. Hal ini sesuai dengan pepatah “Kasih sayang orangtua sepanjang jalan”. Walaupun terkadang anak dan orangtua terhalang oleh jarak ratusan kilometer, tetapi hati, perasaan, jiwa, dan kasih sayang orangtua tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun. Sesungguhnya orangtua akan selalu melantunkan doa-doa agar anaknya mampu menjadi orang yang saleh, taat beragama dan mampu memperjuangkan dunia, akhirat, amal, ilmu dan doa. Sesungguhnya kehidupan duniawi hanyalah bersifat sementara. Ada kehidupan yang lebih panjang dan abadi pada kehidupan selanjutnya yakni di akhirat. Kehidupan duniawi hanyalah persentase kecil dari kehidupan yang sesungguhnya. Maka dari itu, setiap muslim diharapkan untuk selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Sesungguhnya bekal abadi yang akan dibawa kelak di akhirat hanyalah amal jariyah. Harta, kedudukan, golongan, saudara tidak akan terbawa ke akhirat. Setiapa manusia dalam menjalankan perintah Allah pasti pernah melakukan kesalahan. Entah kesalahan ringan maupun berat sekalipun. Oleh karena itu, segeralah bertaubat untuk meminta pengampunan dari Allah SWT. Karena sesungguhnya tiadalah kata terlambat untuk berdoa dan bertobat itu. Orang yang berbuat dosa kemudian mengetahui tentang dosanya itu tadi tidak menyesali perbuatannya, maka ia akan mendapatkan ancaman dari Allah berupa siksa yang teramat berat. Tapi ketika seseorang tersebut sadar dengan dosa-dosanya dan menyesali dengan sebenar-benarnya maka Allah akan mengampuninya. Maka dari itu segera bertaubat dan berserah diri kepada Allah untuk memohon ampunanNya.

Elegi Ritual Ikhlas 14: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar